Awal mula penentuan struktur
Sintesis dan pemurnian bahan bukan
tujuan final bagi kimiawan. Yang harus didefinisikan adalah struktur bahan yang
telah disintesis dan dimurnikan. Tahap ini kadang merupaka tahap yang palin
sukar. Harus diakui bahwa sampai paruh akhir abad ke-20, kimiawan tidak
dibekali dengan alat yang cukup untuk mengataso kesukaran ini. Beberapa
kimiawan mengusulkan struktur yang tidak tepat bahkan untuk beberapa tahun.
Namun, situasinya berubah drastis sejak dikembangkan berbagai teknik
spektroskopi. NMR (Nuclear magnetic resonance) khususnya adalah metoda
yang sangat unggul dibanding metoda-metoda yang lain. Untuk padatan kristalin,
analisis kristalografi sinar-X terbukti sangat bermanfaat.
Sebelum dikenalkan teknik
spektroskopi, yakni sampai paruh pertama abad 20, penentuan struktur senyawa
organik didasarkan atas perbandingan dengan senyawa yang strukturnya telah
diketahui. Bila semua sifat fisik dan kimia senyawa identik dengan senyawa yang
telah dideskripsikan di literatur, dapat disimpulkan bahwa senyawa yang sedang
dipelajari identik dengan snyawa yang strukturnya telah diketahui. Kriteria ini
masih diadopsi hingga kini walaupun perbandingan yang dilakukan mungkin
berbeda.
Bila sifat fisik dan kimia senyawa
yang diselidiki tidak tepat dengan senyawa apapun yang sudah dikenal di
literatur, besar kemungkinan senyawa ini adalah senyawa baru, belum pernah
disintesis atau belum pernah dilaporkan. Dalam kasus semacam ini, masalah baru
mungkin muncul. Bagaimana orang dapat menentukan struktur senyawa yang sama
sekali baru? Metoda penentuan struktur berubah drastis pada pertengahan abad
20. Metoda tradisional, walaupun sederhana, sangat memakan waktu dan sukar
dalam praktek: jadi, pertama struktur senyawa yang baru disintesis diasumsikan,
dan kemudian suatu rute tertentu didesain untuk mengubah senyawa ini menjadi
senyawa yang telah diketahui. Pengubahan itu mungkin memerlukan beberapa tahap.
Sepanjang perubahan struktur yang disebabkan oleh tiap tahap teridentifikasi,
pengubahan yang berhasil sampai senyawa yang diketahui merupakan bukti struktur
yang diasumsikan. Harus ditambahkan bahwa reaksi untuk pengubahan ini dipilih
dari reaksi yang hanya melibatkan gugus fungsi dan bukan kerangka molekulnya.
Kini penentuan struktur terutama
dilakukan dengan metoda spektroskopik dan difraksi. Di bab ini, pertama akan
dibahas metoda penentuan struktur yang tersedia sebelum zaman modern, baru
setelah itu teknik modern didiskusikan. Harus ditambahkan kini tersedia banyak
metoda untuk menentukan struktur. Misalnya, perhitungan kimia kuantum mungkin
juga merupakan sumber informasi yang bermanfaat.
a.
Uji titik leleh campuran
Metoda ini telah secara ringkas
dibahas di bab sebelumnya (Bab 12..2). Seebelum pertengahan abad 20, prosedur
utama dalam penentuan struktur senyawa organik adalah untuk membuktikan bahwa
senyawanya identik dengan senyawa yang telah diketahui. Bukti ini terutama
dicapai dengan uji titik leleh campuran (uji campuran). Metoda ini didasarkan
prinsip bahwa titik leleh padatan paling tinggi ketika padatan itu murni. Bila
dua sampel A dan B memiliki titik leleh yang sama, maka ditentukan titik leleh
A murni, B murni dan campuran sejumlah sama A dan B. Bila hasil ketiganya sama,
terbukti bahwa A dan B identik.
Dalam praktek, terdapat beberapa
kerumitan. Titik leleh tidak selalu tajam, dan bahan cenderung meleleh dalam
rentang suhu tertentu. Jadi, tidak mudah untuk menyatakan apakah dua titik
leleh sama atau tidak. Namun, metoda dan teorinya sederhana dan jelas, dan
telah digunakan sebagai sarana identifikasi selama beberapa tahun.
b.
Penggunaan turunan padatan
Bila sampelnya berwujud cairan atau
gas, metoda titik leleh campuran tidak dapat digunakan. Bila sampel gas atau
cairan memiliki gugus fungsi yang reaktif, sampel ini dapat diubah menjadi
padatan yang mungkin menghasilkan kristal yang indah. Aldehida dan keton, yang
sangat penting dalam kimia organik, cenderung berupa cairan bila m assa
molekulnya rendah. Dalam kasus semacam ini senyawa ini biasanya diubah menjadi
turunannya yang padat yang lewbih mudah ditangani untuk penentuan struktur.
Pereaksi yang dapat bereaksi dengan aldehida dan keton,
misalnya hidroksilamin NH2OH
??hidrazin NH2NH2 dan fenilhidrazin C6H5NHNH2
??Sfenilhidrazin terkenal karena kimiawan Jerman Emil Fischer (1852-1919)
menggunakannya dengan sukses dalam risetnya pada topik gula. Beberapa reaksi
untuk mendapatkan kristal turunannya diberikan di bawah ini.
|
CH3CHO
|
+
|
NH2OH
|
–>
|
CH3CH=NOH
|
+
|
H2O
|
(13.1)
|
|
Asetaldehida
|
|
hidroksilamin
|
|
asetaldoksim
|
|
|
|
|
(CH3)2C=O
|
+
|
C6H5NHNH2
|
–>
|
(CH3)2C=NNH
C6H5
|
+
|
H2O
|
(13.2)
|
|
aseton
|
|
fenilhydrazin
|
|
asetonfenilhidrazon
|
|
|
|
Senyawa turunan yang kristalin dapat
digunakan untuk penentuan struktur senyawa yang tidak diketahui. Prosedurnya
sama dengan yang dibahas di atas
c.
Perbandingan sifat fisik
Sifat fisik lain seperti titik
didih, indeks bias, momen dipol, dan rotasi spesifik untuk senyawa yang optik
aktif dapat memberikan onformasi yang bermanfaat. Data semacam ini dapat
memberikan informasi pda sifat keseluruhan molekul. Kadang, sifat molekul
keseluruhan dapat merupakan jumlah dari berbagai kontribusi bagian-bagian
senyawa. Dalam kasus sperti ini, informasi pada bagian tertentu senyawa dapat
diperoleh. Misalnya, penggunaan momen dipol µ akan diberikan di bawah ini.
Momen dipol hasil perconaan untuk
nitrobenzen (3,98 D) dan khlorobenzen (1,58 D), arah momen dipolnya ditentukan
dengan sifat elektronik gugus fungsi (misalnya keelektronegatifan) (Gambar
13.1(a)). Dalam mendiskusikan momen dipol senyawa organik, momen ikatan C-C dan
C-H diasumsikan nol. Jadi momen senyawa-senyawa tadi ditentukan terutama oleh
momen ikatan gugus fungsinya.
Momen dipol dua isomer
khloronitrobenzen adalah 2,50 D dan 3,40 D. Karena momen ikatan telah
diidentifikasi sebagai isomer para dan meta sebagaimana diperlihatkan pada
Gambar 13.1 (b).
Gambar
13.1 Momen dipol turunan benzen tersubstitusi. Perbandingan antara nilai yang
diamati dan yang
dihitung jelas menunjukkan orientasi relatif substituennya.
d.
Reaksi kualitatif
Penentuan struktur senyawa organik
biasanya meliputi dua pendekatan. Sebaliknya, informasi struktur secara kasar
didapat dengan penentuan massa molekul, analisis unsur, dsb. Demikian juga
informasi jenis dan jumlah gugus fungsi juga harus didapatkan. Jadi, informasi
tentang molekul secaraa keseluruhan dan substituennya didapatkan secara
seiring.
Sebelum perkembangan spektroskopi,
identifikasi gugus fungsi bergantung terutama pada kereaktifannya. Contoh
khasnya adalah deteksi gugus karbonil (aldehida -CHO dan keton -C=O) dengan
menggunakan reaksi cermin perak dan uji Fehling.
Kini metoda seperti ini tidak pernah
digunakan untuk mendeteksi aldehida di laboratorium riset manapun. Namun,
reaksi semacam ini masih sangat penting tujuan pendidikan. Lebih lanjut,
beberapa reaksi warna klasik masih digunakan. Contoh yang baik adalah reaksi
ninhidrin, yang bahkan sekarang pun masih sangat bermanfaat untuk analisis asam
amino.
Sumber: www.chem-is-try.org
No comments:
Post a Comment